Paket PROMO LIBURAN BALI - PAKET WISATA FAVORIT BALI 2012 - PESAN SEKARANG
Powered by MaxBlogPress 

Archive for 'Event'

Rahajeng Rainan Galungan lan Kuningan

Posted on December 6th, 2010 by , under Event.

Kami team Balirc.com mengucapkan selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

8 dan 18 Desember 2010

Untuk semua umat Hindu yang merayakan…

Semoga semua diberikan kebahagiaan, rezeki lancar dan penuh dengan kemenangan-kemenangan..

No Comments

3 Desember 2010, Umat Hindu Bali Rayakan Sugian Bali

Posted on December 2nd, 2010 by , under Event.

Hari ini, 3 Desember 2010, Umat Hindu di Bali kembali merayakan hari raya Sugian Bali. Upacara ini bermakna untuk penyucian diri sendiri (bhuana alit). Ini merupakan kelanjutan dari prosesi Sugian Jawa kemarin (penyucian alam semesta).

No Comments

Sugian Jawa dan Sugian Bali

Posted on December 2nd, 2010 by , under Event.

6 Hari sebelum hari raya Galungan, umat Hindu di Bali khususnya merayakan hari penyucian yang dinamakan Sugian Jawa dan Sugian Bali. Sugian Jawa  mempunyai makna  penyucian alam  semesta (bhuana  agung), sedangkan  Sugian Bali  mempunyai makna  penyucian diri  sendiri (bhuana alit).

Sugian Jawa diperingati setiap hari Kamis dan Sugian Jawa setiap hari Jumat sebelum Galungan. Upacara ini merupakan rangkaian dari upacara besar umat Hindu, Galungan dan Kuningan. Beberapa upacara yang merupakan rangkaian adalah terhitung dari  hari Sugian Jawa, Sugian Bali, jatuh tepat pada hari Sukra Wage, Wuku Sungsang, berlanjut menuju hari Penyekeban, Penyajaan, Penampahan, Galungan, Umanis Galungan, Ulihan, Pamacekan Agung, Penampahan Kuningan, hingga perayaan hari raya Kuningan.

Ketidaksucian bhuana agung, tidak terlepas dari ulah manusia sebagai pemegang otoritas atas bhuana alit. Agar bhuwana agung ini menjadi suci kembali, maka bhuana alit harus dibuat suci terlebih dulu. Caranya dikembalikan kepada manusia sendiri. Kalau tidak mampu memaknai dengan cara upacara, dapat dilakukan dengan cara lain, karena Ida Sang Hyang Widhi Wasa telah mengisyaratkan, dengan cara apa pun asalkan menuju kepada-Nya, Beliau akan terima. Yang paling penting adalah memahami arti dari ”kesucian” itu sendiri. Kalau itu tidak dipahami, sama saja artinya pergi ke suatu tempat, yang alamatnya tidak jelas.

Dalam kitab Wedanta disebutkan, bahwa manusia terdiri dari badan, manas (pikiran), budhi (kecerdasan) dan atman yang merupakan percikan dari Paraatman. Setiap makhluk hidup mempunyai atman yang sama. Yang membedakan di antara makhluk adalah adanya badan yang membungkusnya, budhi dan manas itu sendiri. Inilah yang bisa membuat manusia menjadi tidak suci. Kebodohan, nafsu dan keinginan-keinginan kotor telah membendung sinar suci atman, sehingga tidak mampu menembus keluar.

Apabila tabir-tabir kebodohan, nafsu dan keinginan kotor itu bisa disingkap, dengan menghilangkan atau menekan serendah mungkin, maka sinar-sinar suci atman akan mampu menembus keluar dari badan manusia.

Dikutip dari berbagai sumber.

No Comments

Upacara Mreteka Merana/ Ngaben Tikus

Posted on November 30th, 2010 by , under Event.

Upacara Mreteka Merana/Ngaben Tikus, sudah sering dilakukan oleh masyarakat Hindu  di Kabupaten Tabanan, khususnya oleh krama subak di wilayah desa pekraman Bedha, desa Bongan , kecamatan Tabanan, kabupaten Tabanan. Mengingat wilayah di desa ini sebagian besar penduduknya hidup dari bercocok tanam, khususnya padi. Sehingga upacara yang berhubungan dengan keselamatan dan kesuburan tanaman, khususnya padi, sudah sering dilaksanakan baik secara rutin seperti Masembuhan dan Nanggeluk Merana maupun tidak rutin (Nabgata Kala) seperti Ngalepeh dan Mreteka Merana.

Upacara Mreteka Merana/Ngaben bikul ini oleh beberapa subak di Bali belum memasyarakat sekali walaupun krama subak di wilayah desa pekraman Bedha sudah sering melakukannya, sehingga upacara ini dianggap sebagai Loka Dresta (kebiasaan setempat) apalagi upacara ini dilaksanakan ditempat suci yaitu di penataran Baleagung Pura Puseh Luhur Bedha, namun  dilihat dari hasilnya setelah upacara ini dilaksanakan ternyata telah memberikanh bukti nyata bagi kehidupan para petani.

Mreteka Merana terdiri dari dua kata yaitu kata Mreteka dan kata Merana. Mreteka artinya mengupacarai, Merana artinya hama penyakit. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menyucikan roh/atma hama penyakit supaya kembali ke asalnya sehingga tidak kembali menjelma ke bumi sebagai hama penyakit dan merusak segala jenis tanaman yang ada di bumi, khususnya tanaman padi. Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan isi lontar (kitab) seperti lontar Sri Purana dan lontar Dharma Pemacula yang menyebutkan Kapreteka, sama luirnya mretekaning wong mati bener artinya diupacarai seperti mengupacarai orang mati. Oleh karena itu, pandangan masyarakat awam pada akhirnya mengkonotasikan upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben Tikus) karena upacaranya seperti orang ngaben di Bali yang membawa Cuntaka (tidak suci). Pandangan seperti ini hendaknya perlu diluruskan. Untuk lebih jelasnya, bahwa upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Bhuta Yadnya (mengupacarai sarwa prani) . Bhuta Yadnya adalah upacara yang tidak membawa cuntaka (tidak suci) . Untuk upacara Bhuta Yadnya ada bermacam-macam seperti memakai layang-layang (kulit binatang) ada yang ditanam ada binatang yang diselamkan di laut atau didanau, yang namanya mulang pekelem termasuk di upacarai seperti orang mati yang namanya mreteka merana.

Menurut Lontar Sri Purana dan Dharma Pemaculan, Preteka ring Bale Agung, gesengeng ring tepining samudra, “artinya upacarai di pura Bale Agung dan di bakar di tepi laut”, maka untuk di desa Pekraman Bedha upacara mreteka merana ini dilaksanakan dipenataran Bale Agung Pura Luhur Bedha dan pembakarannya dilasngungkan di pantai Yeh Gangga.

Di desa pekraman Bedha upacara seperti ini dilaksanakan apabila hama tikus dan hama lainnya telah menyebabkan gangguan yang sudah luar biasa dan tidak bisa dikendalikan. Upacara mreteka merana ini sudah lebih dari enam kali dilaksanakan. Pada tahun 2000 pernah dilaksanakan, setelah itu tanaman tidak pernah lagi terserang oleh hama penyakit sampai tahun 2008. Akan tetapi sejak tahun 2008 hama penyakit khususnya hama tikus lagi merajalela sampai tidak bisa dikendalikan. Itulah sebabnya berdasarkan kesepakatan krama subak di wilayah desa pekraman Bedha yang terdiri dari subak Gubug I, subak Gubug II, subak Sakeh, subak Tanah Pegat, subak Lanyah Wanasara, subak Bengkel dan Pangkung Tibah yang luasnya 900 Ha melaksanakan upacara Mreteka Merana.

Tata cara Pelaksanaan Upacara Mreteka Merana

Sesuai dengan isi lontar Kerti Cama dan lontar Purwana Yama Tatwa, tata cara pelaksanaannya sebagai berikut, memakai perwujudan badan wadan wadag (awak awakan) yang disebut sekah, terdiri dari belulang (kulit tikus) . Ini yang diupacarai (diringkes) yang pelaksanaannya seperti mengupacarai orang mati. Oleh karena dalam upacara ini kita menggunakan kulit tikus, sudah barang tentu tikus itu, sebelum upacara kita bunuh. Pembunuhan ini dibenarkan oleh lontar Purwana Yama Tatwa, asal pembunuhan itu tidak menggunakan senjata tajam (Haywa pinatian dening sanjata malandep, apan hilang gunaning sanjata ika, lan ngawe tuaken cuntaka ). Sebab ketajaman senjata itu akan hilang dan menyebabkan cuntaka (tidak suci) Pembunuhan supaya dilaksanakan dengan cara mengikat , dijepit dengan belatung dan duri duri kemudian dibuang ditengah laut.

Sesuai dengan isi lontar Usada Sawah , perwujudan badab wadag (awak awakan) sekah itu terdiri dari 5 buah karena tikus itu adalah penjelmaan ari-ari, darah , yeh nyom (air ketuban) dan lamad. Ari0ari, tikus kuning, darah tikus merah, air ketuban tikus hitam Lamas tikus putih dan ada lagi tikus mancawarna (berwarna lima) Kulit tikus itu yang dipakai perwujudan badan wadag (pengawak) .

Waktu Pelaksanaan Mreteka Merana

Sesuai dengan isi lontar Purwana Yama Tatwa, tata cara mengupacarai tikus itu adalah pada saat bertepatan dengan bulan tikus (kapreteka nangken rasi tikus). Kalau tidak diupacarai ia akan manjadi hama memakan tanaman, semua tanaman petani milik petani, oleh karena tikus dan hama lainnya, lahir dari manusia yang berprilaku yang tidak baik (wang apakrama). Cara mengupacarai sama seperti mengupacarai manusia yang sudah mati (Preteka luirning wong mati bener). Untuk di Desa Pekraman Bedha, upacara ini dilaksanakan apabila hama tikus dan lainnya sudah tidak bisa dikendalikan.

Sumber Merana (Sumber Hama)

Mengenai sumber (penangkan) merana tersebut telah diuraikan ke dalam beberapa lontar anatar lain  :

Lontar Babad Dewa

Dikisahkan babi peliharaan Batara Putrajaya denga rajanya bernama Babi  Si Hati, yang dibunuh oleh Batari Danuh, bangkai bangkainya terbuang ke laut. Maka marahlah Batara Baruna (Dewa Laut) , lalu mengutuk bangkai bangkai babi itu. Tulang tulangnya menjadi tikus dan bulunya menjadi walang sangit. Kemudian oleh Batara Baruna memerintahkan untuk merusak  tanaman padi di bumi.

Lontar Sri Purana Tatwa

Disini disebutkan, timbulnya hama penyakit itu bila umat hindu lupa melakukan upacara di pura Ulun Suwi, Masceti, Pura Kentel Gumi dan Watu Klotok. Beliau yang bersetana disini adalah penguasa hama. Di pura Masceti penguasa tikus, di pura Sakenan penguasa walang sangit.

Secara Mithologis kisah I Gudug Basur dan I Bawi Srenggi. Kedua duanya ingin mengawini Betari Sri. Maka marahlah suami beliau, Betara Rambut Sedana, kemudian dapat membunuh keduanya. I Gudug Basur menjelma menjadi garam dan ikan laut dan berjanjji akan selalu dekat dengan Betari Sri (berupa makanan ) sedangkan I Bawi Srenggi menjelma , ekornya menjadi tikus , darahnya candang api, napasnya candang aus, yang akan selalu merusak Betari Sri (tanaman padi)

Lontar Usada Sawah

Disini disebutkan bahwa raja tikus itu, berasal dari saudara empat (catur sanak).

-        Ari-ari menjadi tikus kuning, berada di barat, milik Batara Mahadewa

-        Darah menjadi tikus merah, berada di selatan milik Batara Brahma

-        Yeh Nyom, menjadi tikus hitam, berada di utara, milik Betara Wisnu

-        Lamas, menjadi tikus putih, berada di timur, milik Betara Iswara

-        Adanya tikus mancawarna, sudah barang tentu berada di tengah, milik Sanghyang Siwa Geni

Serangkaian denga upacara mreteka merana, dimana dibuat perwujudan badan wadag sebanyak 5 buah, untuk disucikan setelah suci dikembalikan kepada pemiliknya masing masing menyatu kepada Hyang Pencipta, untuk kembali menjelma menjadi merana.

Lontar Sila Gama Catur Pataka

Lontar ini menyebutkan sumber penyebab merana akibat perbuatan manusia disebut “Apah Krama” yaitu perbuatan terlarang seperti perkawinan sumbang (gamia gamana) misalnya mengawini ibu kandung, adik kandung, dan lain sebagainya.

Lontar Purwana Yama Tatwa

Lontar ini menyebutkan penyebab merana itu berasal dari perbuatan orang yang “ Papa Krama” antara lain orang  sudra mengawini Brahmana dan Ksatria, Kesatria mengawini Brahmana, manusia kawin dengan binatang (salah timpal) anaknya menjadi salah wetu (tidak sesuai) anaknya menjadi tikus, ari-ari menjadi walang sangit , air ketuban menjadi basah , Lamas menjadi candang, Getih menjadi mati muncuk. Ini kalau tidak diupacarai dengan pengentas penyucian selamanya akan cemer (kotor) Para dewa akan hilang tidak ada di dunia, sakit tidak henti-hentinya menimpa para pemimpin para mentri dan wiku. Oleh karena itu tikus itu patut diupacarai, seperti mengupacarai orang yang sudah meninggal. Lontar Sri Purana menambhkan, demikian juga lontar Dharma Pemaculan, supaya diupacarai di Bale Agung dan dibakar di tepi laut .

Sumber : http://www.tabanankab.go.id/artikel/budaya-dan-agama/372-upacara-mreteka-merana-ngaben-tikus

No Comments

Gebyar Wisata dan Budaya Buleleng 2010

Posted on November 25th, 2010 by , under Event.

Gebyar Wisata dan Budaya Buleleng 2010. Sumber : www.bulelengkab.go.id – Info lengkap silakan dilihat di brosur/ image di bawah ini :

No Comments

Seminar Properti Bali – Tung Desem Waringin – 19 November 2010

Posted on November 15th, 2010 by , under Event.

Untuk insan property di Bali atau Anda yang tertarik terjun di bisnis property, ayo jangan lewatkan seminar property di bulan november ini :

Speaker : Tung Desem Waringin
Waktu    : 10.00 – 13.00, 19 November 2010
Biaya     : GRATIS
Lokasi : New Kuta Condotel

Pendaftaran : 0361 752970

No Comments

Yaris Photography Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010

Posted on November 13th, 2010 by , under Event.

Yaris Photography Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010 . Info lengkap bisa dilihat di brosurnya…

No Comments

Yaris Dance Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010

Posted on November 13th, 2010 by , under Event.

Yaris Dance Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010. Info lengkap di brosur..

No Comments

Yaris Band Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010

Posted on November 13th, 2010 by , under Event.

Yaris Band Contest – Denpasar Junction – 13 November 2010. Info lengkap, silakan lihat di brosur ya..

No Comments

YAMAHA ATTRACT XEON ON THE SPOT PHOTO CONTEST 2010 – Lapangan Lumintang

Posted on November 13th, 2010 by , under Event.

YAMAHA ATTRACT XEON ON THE SPOT PHOTO CONTEST 2010

SYARAT & KETENTUAN:

…1. Lomba foto terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya – GRATIS.
2. Pemotretan dengan kamera digital.
3. Pendaftaran peserta dapat dilakukan langsung di lokasi acara pada Sabtu, 13 Nopember 2010 pukul 09.30 Wita di Lapangan Lumintang, Jl. Gatot Subroto Tengah, Denpasar.
4. Lomba foto adalah lomba on the spot dengan model dan sepeda motor Yamaha yang disediakan oleh panitia serta hunting bebas dilokasi acara.
5. Setiap peserta maksimal hanya boleh mengumpulkan 2 foto yang diserahkan langsung pada panitia setelah sesi pemotretan selesai.
6. Format foto yang dikumpulkan yaitu file JPEG Fine large.
7. Panitia berhak mempergunakan karya – karya foto pemenang guna keperluan publikasi (hak cipta tetap berada pada fotografer yang bersangkutan)
8. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

LOKASI KEGIATAN:
Stage Photography Yamaha Attract Xeon, Lapangan Lumintang, Jl. Gatot Subroto Tengah, Denpasar, Bali.

WAKTU KEGIATAN:
Sabtu, 13 Nopember 2010.
- Pendaftaran on the spot pukul 09.30 Wita di lokasi kegiatan.
- Sesi pemotretan model: pukul 10.40 Wita
- Sesi hunting bebas: pukul 15.35 Wita
- Penerimaan karya terakhir: pukul 16.00 Wita

PENGUMUMAM PEMENANG:
Sabtu, 13 Nopember 2010 pukul 19.20 Wita.

DEWAN JURI:
Anom Manik Agung – Fotografer profesional
IB Pradnyana, Gusde – Fotografer professional

Hadiah:
Juara 1 (1 orang): Uang tunai Rp. 1.000.000,-
Juara 2 (1 orang): Uang tunai Rp. 750.000,-
Juara 3 (1 orang): Uang tunai Rp. 500.000,-

Contak Person:
Agus Indra HP: 081999175999

Sumber : Perhimpunan Fotografer Bali

No Comments

« Older Entries   Recent Entries »