Mengomentari Simakrama Gubernur Bali

Di postingan kali ini saya tertarik untuk mengomentari materi simakrama Gubernur Bali yang ditayangkan di TVRI Bali (maaf lupa tempat dan tanggalnya) menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bagaimana mengatasi kemacetan di Bali, termasuk dengan adanya bus Sarbagita.

Menjawab pertanyaan tersebut Gubernur Bali menjawab ada beberapa cara seperti : stop jumlah kendaraan bermotor (susah ya tutup dealer motor atau mobil, pemerintah nanti sumber pajak berkurang, trus katanya lapangan kerja berkurang :) ), kedua dengan  kebiasaan mengunakan kendaraan umum (warga Bali belum terbiasa dan juga tidak tersedia fasilitas di beberapa tempat), plus dengan penyediaan kendaraan umum seperti bus Sarbagita.

Komentar saya; mengatasi kemacetan dengan “hanya” mengandalkan bus Sarbagita tidak akan menyelesaikan masalah, paling hanya mengurangi sedikit saja kemacetan. Warga Bali sudah terbiasa dengan 1 rumah dengan 3 atau 4 motor, belum lagi mobil. Contohnya ; punya anak sekolah SMP, karena malas mengantar atau sibuk, dibelikan motor, punya anak SMA juga dibelikan. Sekarang anak SD saja sudah banyak naik motor di jalanan.

Menyerukan warga Bali menggunakan kendaraan umum, sementara mereka punya kendaraan pribadi, juga masih menjadi hal yang tidak mungkin :)

Bayangkan saja kalau satu rumah rata2 dengan 3 motor, dan bersamaan keluar pagi hari atau sore hari. Belum lagi dengan banyaknya usaha penyewaan sepeda motor atau mobil di Bali.

Satu-satunya cara untuk menekan jumlah kendaraan atau drastis menurunkan tingkat kemacetan adalah dengan menaikkan pajak kendaraan. Contoh pajak kendaraan bermotor sekarang yang hanya 250 ribuan per tahun, coba bikin 1 juta atau 1,5 juta. Pasti banyak yang jual motor. Yang punya 4 motor, 1 tahun membayar 6 juta sekaligus. Banyak yang bingung kan? Orang akan lebih maksimal memanfaatkan dengan hanya cukup punya 1 atau 2 motor. Jadinya Bapak/Ibu akan lebih rajin antar anak sekolah, istri kerja.

Di saat pajak kendaraan bermotor naik, jumlah kendaraan menurun. Barulah peluang perbanyak kendaraan umum dan rutenya juga dibikin banyak dan bervariasi. Mau ngga mau akan dipakai tuh kendaraan umum.

Itu sih klo pemda Bali mau “radikal”, kalau ngga ya nikmati saja kemacetan dan kembangkan saja usaha di rumah, daripada di jalan macet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>